Peran Hangat Pembina Putri: Menjadi Ibu bagi Santri di Asrama Pesantren
Rejang Lebong (Humas) — Kehidupan di asrama bukan sekadar tempat tinggal bagi para santri, tetapi menjadi rumah kedua yang penuh kasih sayang dan perhatian. Di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, peran pembina putri begitu terasa, terutama dalam momentum Ramadhan yang sarat nilai kebersamaan.(24/02/26)
Para pembina asrama putri tidak hanya menjalankan tugas pengawasan dan pembinaan, tetapi juga hadir sebagai sosok ibu dan orang tua bagi para santri. Salah satunya adalah Ustadzah Dwi Ayu Wulandari, M.Pd.Gr., yang dengan penuh ketulusan turun langsung menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk para santri putri di asrama.
Dengan sigap beliau membantu mempersiapkan takjil, memastikan menu berbuka tersaji dengan baik, serta memperhatikan kebutuhan para santri satu per satu. Suasana yang terbangun begitu hangat—layaknya seorang ibu yang menyiapkan hidangan terbaik untuk anak-anaknya di rumah.
Tindakan ini bukan sekadar membantu secara teknis, tetapi menjadi bentuk nyata kasih sayang dan kepedulian. Para santri merasakan bahwa mereka tidak sendiri; ada figur orang tua yang selalu hadir membersamai, membimbing, dan memperhatikan mereka dalam setiap keadaan.
Dalam penyampaiannya, Ustadzah Dwi Ayu Wulandari, M.Pd.Gr. menuturkan bahwa menjadi pembina asrama berarti siap membersamai santri dengan hati.
“Bagi kami, santri bukan hanya peserta didik, tetapi sudah seperti anak sendiri. Ketika kami menyiapkan buka puasa untuk mereka, itu bukan kewajiban semata, melainkan bentuk kasih sayang. Kami ingin mereka merasa nyaman, diperhatikan, dan merasakan suasana keluarga meskipun jauh dari orang tua,” ungkap beliau.
Beliau juga menambahkan bahwa Ramadhan menjadi momentum untuk mempererat ikatan batin antara pembina dan santri.
“Di pesantren, kebersamaan adalah kekuatan. Kami ingin para santri tumbuh tidak hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan rasa dicintai dan dihargai. Dari situlah akan lahir pribadi yang lembut hatinya dan kuat akhlaknya,” tambahnya.
Kehadiran pembina putri yang penuh dedikasi ini menjadi salah satu pilar penting dalam pembentukan karakter santri. Di balik kesederhanaan persiapan berbuka puasa, tersimpan nilai besar tentang cinta, pengorbanan, dan tanggung jawab—nilai-nilai yang menjadi ruh pendidikan pesantren.
Ramadhan pun terasa semakin bermakna, karena di asrama Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, kasih sayang hadir tidak hanya dari keluarga di rumah, tetapi juga dari para pembina yang setia menjadi orang tua kedua bagi para santri.
(Amanatus Saniah/Prada Utama, S.I.Kom)Hastag : #RamadhanPenuhCinta #PembinaAsrama #SantriPutri #DarulMaarifNU#MAdarulmaarifNU
From : MA Darul Maarif NU


.jpg)
.jpg)