Sarasehan Jelang Kepulangan Santri, Pimpinan Pesantren Darul Ma’arif NU Sampaikan Pesan Haru dan Permohonan Maaf
Rejang Lebong (Humas) – Suasana
penuh khidmat dan haru menyelimuti kegiatan sarasehan keluarga besar Pondok
Pesantren Darul Ma’arif NU Rejang Lebong yang digelar menjelang waktu berbuka
puasa di Masjid Jami’ Tanjung Beringin. Kegiatan tersebut menjadi momen penting
menjelang kepulangan para santri dalam rangka libur Idul Fitri 1447 Hijriah. (05/03)
Dalam kesempatan itu, Pimpinan
Pondok Pesantren Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, Mabrur Syah, S.Pd.I., S.IPI.,
M.H.I., menyampaikan pesan mendalam sekaligus permohonan maaf kepada seluruh
keluarga besar pesantren.
Dalam penyampaiannya, ia
mewakili unsur pengasuh, yayasan, dewan guru, serta para asatidz untuk memohon
maaf lahir dan batin kepada seluruh warga pesantren apabila selama proses
pendidikan dan pembinaan terdapat kekhilafan.
“Menjelang kepulangan ananda
sekalian ke rumah masing-masing, kami atas nama pengasuh, yayasan, dewan guru,
dan seluruh asatidz memohon maaf apabila selama proses pendidikan terdapat
kekhilafan atau tutur kata yang kurang berkenan. Semua yang kami lakukan adalah
bagian dari ikhtiar mendidik dengan penuh cinta dan tanggung jawab,” tuturnya
dengan penuh ketulusan.
Selain menyampaikan permohonan
maaf, ia juga mengingatkan para santri bahwa masa libur Idul Fitri bukanlah
waktu untuk terputus dari pesantren. Sebaliknya, momentum tersebut harus
dimanfaatkan untuk memperluas silaturahmi dengan keluarga, masyarakat, serta
para guru.
“Silaturahmi jangan sampai
terputus. Pintu rumah kami selalu terbuka. Jika ada kesempatan, silakan
berkunjung. Kita adalah keluarga besar, bukan hanya terikat oleh lembaga,
tetapi juga oleh hati dan doa,” lanjutnya.
Dalam pesannya, Mabrur Syah
juga menekankan pentingnya menjaga amalan baik yang telah dibiasakan selama
berada di pesantren. Ia mengingatkan agar para santri tetap disiplin dalam
menjalankan ibadah, menjaga hafalan, serta terus melanjutkan kebiasaan membaca
Al-Qur’an.
“Jaga shalat tepat waktu, jaga
hafalan, teruskan tadarus Al-Qur’an, dan terapkan adab yang telah diajarkan di
pesantren. Jadilah contoh yang baik di tengah keluarga dan masyarakat. Santri
harus membawa cahaya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk
lingkungannya,” pesannya penuh harap.
Menjelang azan Maghrib
berkumandang, suasana masjid dipenuhi rasa haru, kebanggaan, dan doa. Momen
tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan di pesantren tidak berhenti ketika
santri pulang ke rumah, melainkan terus hidup dalam sikap, akhlak, dan pengabdian
mereka di tengah masyarakat.
Hastag : #PesanPimpinanPesantren #LiburPenuhMakna #MADarulMaarifNU #SantriBerakhlak #SilaturahmiTanpaBatas
From : MA Darul Maarif NU



