Setiap Huruf Diperhatikan, Setiap Bacaan Diperbaiki, Tahsin Surat Al-Fajr Majelis Taklim Baiturrahman Gunakan Metode Yanbu’a
Rejang Lebong (Humas) – Semangat memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an terus tumbuh di tengah masyarakat. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Tahsinul Qiraah bersama ibu-ibu Majelis Taklim Baiturrahman, Kelurahan Kesambe Baru, Kecamatan Curup Timur, pada Jumat (7/8).
Kegiatan pembelajaran yang dipandu ASN KUA Curup Utara, Rahmat Yudhi Septian, M.Pd, tersebut berfokus pada pembacaan Surat Al-Fajr dengan menerapkan metode Yanbu’a. Pembelajaran berlangsung secara bertahap dengan menekankan ketepatan pelafalan setiap huruf, makharijul huruf, panjang-pendek bacaan, serta penerapan kaidah tajwid.
Rahmat menyampaikan bahwa tahsin bukan sekadar membuat bacaan terdengar lebih indah, tetapi merupakan proses memperbaiki bacaan agar semakin tepat sesuai dengan kaidah membaca Al-Qur’an.
“Setiap huruf perlu diperhatikan, karena kesalahan kecil dalam makhraj maupun panjang-pendek bacaan dapat memengaruhi ketepatan dalam membaca Al-Qur’an. Karena itu, kita belajar secara perlahan, membaca, mendengarkan, kemudian memperbaiki bagian yang masih kurang tepat,” jelasnya.
Dalam praktiknya, peserta membaca ayat-ayat Surat Al-Fajr secara bergantian. Setiap bacaan disimak dan diberikan koreksi secara langsung sehingga peserta dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki. Pola pembelajaran tersebut membuat suasana mengaji berlangsung aktif dan interaktif, karena peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung mempraktikkannya.
Metode Yanbu’a digunakan sebagai pendekatan pembelajaran yang membantu peserta lebih terarah dalam memperhatikan makharijul huruf dan kaidah tajwid. Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa metode Yanbu’a dikembangkan untuk menjaga ketepatan dan keseragaman bacaan Al-Qur’an.
Rahmat menambahkan, pembelajaran tahsin membutuhkan kesabaran dan latihan yang berkelanjutan. Menurutnya, kemampuan membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memahami teori, tetapi harus dibarengi dengan praktik dan koreksi secara konsisten.
“Tidak perlu merasa malu ketika bacaan masih harus diperbaiki. Justru keberanian untuk belajar dan menerima koreksi merupakan bagian dari proses menuju bacaan yang lebih baik,” ungkapnya.
Para ibu Majelis Taklim Baiturrahman tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembelajaran. Mereka berusaha mengulang bacaan yang telah dikoreksi hingga mendapatkan pelafalan yang lebih tepat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang belajar bersama untuk meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an di tengah kesibukan sehari-hari.
Melalui kegiatan Tahsinul Qiraah ini, KUA Curup Utara terus mendorong penguatan literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat. Tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, kegiatan tersebut juga diharapkan menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta membangun kebiasaan belajar yang istiqamah.
Dengan semangat “belajar, membaca, menyimak, dan memperbaiki”, ibu-ibu Majelis Taklim Baiturrahman Kesambe Baru menunjukkan bahwa belajar Al-Qur’an tidak mengenal batas usia. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk memperbaiki satu demi satu bacaan, hingga akhirnya setiap huruf dapat dilafalkan dengan lebih tepat dan penuh keyakinan.
(Rodia/Edwinsya)Hastag : #TahsinSuratAl-Fajr#MajelisTaklimBaiturrahman#KUACurupUtara
From : KUA Curup Utara


.jpg)
