Kenali Perubahan Rupa, Pertahankan Bunyi, PAI KUA Curup Utara Perkuat Kemampuan Iqro 2 MT Al Arofah
Rejang Lebong (Humas) – Memasuki pembelajaran Iqro 2, kemampuan mengenali perubahan bentuk huruf menjadi salah satu kunci penting agar peserta didik tidak mudah keliru dalam membaca. Hal inilah yang menjadi perhatian Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Curup Utara, Siti Rodiatul Kholidawati, S.H.I, saat memberikan bimbingan penyuluhan kepada ibu-ibu Majelis Taklim (MT) Al Arofah, Minggu (9/8).
Dalam bimbingan tersebut, Siti mengajak para peserta untuk memahami bahwa huruf hijaiyah dapat mengalami perubahan bentuk ketika berada dalam posisi terpisah maupun ketika tersambung dengan huruf lainnya. Meski bentuknya tampak berbeda, identitas dan pengucapan huruf tersebut tetap harus dikenali dengan tepat.
Materi ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran Iqro 2 karena peserta mulai berhadapan dengan rangkaian huruf yang tidak lagi selalu tampil dalam bentuk tunggal. Dengan memahami perubahan posisi huruf, peserta diharapkan tidak hanya mengandalkan hafalan bentuk, tetapi mampu membaca berdasarkan pengenalan huruf dan bunyinya.
“Yang perlu kita pahami adalah bentuk huruf bisa berubah ketika disambungkan. Namun, jangan sampai perubahan bentuk itu membuat kita mengubah pengucapannya. Kita harus tetap mengenali hurufnya dan membaca sesuai bunyi yang benar,” jelas Siti Rodiatul Kholidawati.
Menurutnya, kesulitan membaca Iqro 2 sering kali bukan karena peserta tidak mengenal huruf hijaiyah, tetapi karena masih membutuhkan latihan untuk mengenali huruf yang sama dalam bentuk yang berbeda. Karena itu, proses pembelajaran dilakukan secara bertahap dengan memberikan contoh, membaca bersama, kemudian meminta peserta membaca secara bergantian.
Siti juga menekankan pentingnya ketelitian ketika melihat rangkaian huruf. Peserta tidak perlu terburu-buru membaca hanya karena bentuk huruf terlihat berbeda dari bentuk yang selama ini mereka kenal.
“Jangan langsung merasa bahwa ini huruf yang berbeda hanya karena bentuknya berubah. Perhatikan hurufnya, lihat posisinya, kemudian pertahankan pengucapannya. Dengan latihan yang berulang, insyaallah mata kita akan semakin terbiasa mengenali bentuk huruf yang bersambung,” ungkapnya.
Suasana bimbingan berlangsung interaktif. Para ibu-ibu MT Al Arofah mengikuti contoh bacaan yang diberikan, kemudian mencoba membaca rangkaian huruf secara mandiri. Beberapa bagian yang masih dirasa sulit kembali diulang bersama hingga peserta semakin memahami perbedaan bentuk huruf pada posisi awal, tengah, maupun akhir.
Selain melatih kemampuan mengenali perubahan bentuk, bimbingan tersebut juga diarahkan untuk membangun keberanian peserta dalam membaca. Menurut Siti, proses belajar membaca Al-Qur’an tidak harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar yang harus diperbaiki secara bertahap.
“Tidak apa-apa kalau masih salah. Yang penting mau membaca, mau mendengarkan koreksi, dan mau mengulang. Dari situlah kemampuan membaca akan semakin baik,” tambahnya.
Pembelajaran Iqro 2 di MT Al Arofah diharapkan menjadi jembatan bagi para peserta untuk semakin lancar mengenali huruf hijaiyah dalam berbagai bentuk sambungan. Pemahaman tersebut menjadi bekal penting sebelum melangkah ke materi bacaan yang lebih kompleks.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan komitmen PAI KUA Curup Utara dalam menghadirkan bimbingan keagamaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada kemampuan menyelesaikan jilid Iqro, tetapi juga memastikan setiap peserta memahami cara membaca dengan benar dan memiliki kepercayaan diri untuk terus belajar.
Bagi Siti, mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada masyarakat merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Setiap huruf yang dipelajari, setiap kesalahan yang diperbaiki, dan setiap bacaan yang dilatih menjadi bagian dari perjalanan menuju kemampuan membaca Al-Qur’an yang lebih baik.
“Belajar Iqro bukan sekadar menyelesaikan jilid. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap huruf bisa kita kenali, setiap bunyi bisa kita pertahankan, dan bacaan kita semakin hari semakin baik,” pungkasnya.
Melalui bimbingan yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, PAI KUA Curup Utara terus mendorong majelis taklim agar menjadi ruang belajar keagamaan yang aktif, terbuka, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Dari mengenali perubahan rupa huruf hingga mempertahankan bunyinya, proses sederhana tersebut menjadi langkah berarti dalam membangun kemampuan membaca Al-Qur’an secara lebih fasih dan percaya diri.
(Rodia/Edwinsya)Hastag : #PenyuluhAgamaIslamBergerak#KUACurupUtara
From : KUA Curup Utara


.jpg)
