Suara Merdu dalam Balutan Bahasa Arab, Santri Darul Maarif NU Tampil Memukau di Ajang Ghin?’ Arab?
Rejang Lebong, (Humas) — Bakat, kreativitas, dan keberanian santri Pondok Pesantren Darul Ma’arif NU Rejang Lebong kembali mendapat ruang untuk berkembang. Kali ini, dua santri, M. Bagas dan Ilham Akbar Mudzaki, tampil dalam cabang Ghin? Arabic pada kegiatan Musabaqoh Pendidikan Bahasa Arab (MPBA) IAIN Curup, Selasa (6/10).
Dalam kesempatan tersebut, keduanya membawakan lagu berbahasa Arab Syaikhona. Penampilan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi kedua santri, terlebih mereka selama ini lebih sering dikenal sebagai santri yang aktif dalam tim hadroh dan terbiasa membawakan shalawat bersama kelompoknya.
Berbeda dari penampilan mereka dalam tim hadroh, pada ajang Ghin? Arabic kali ini M. Bagas dan Ilham Akbar Mudzaki dituntut tampil dengan format yang berbeda. Keduanya harus mampu mengolah suara, penghayatan, pelafalan bahasa Arab, sekaligus membangun kepercayaan diri ketika tampil di hadapan peserta dan penonton.
Dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan, keduanya berusaha memberikan penampilan terbaik. Lantunan Syaikhona mengalun dengan nuansa yang berbeda, memperlihatkan bahwa pengalaman mereka dalam bershalawat bersama tim hadroh dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuan seni suara ke ruang yang lebih luas.
Kegiatan tersebut juga disaksikan langsung oleh Kepala Madrasah Aliyah Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, Dedi Priyanto, S.E., M.E.Gr. Kehadiran Kepala Madrasah menjadi bentuk dukungan sekaligus penyemangat bagi para santri yang sedang tampil dan membawa nama madrasah dalam ajang pendidikan bahasa Arab.
Kepala Madrasah hadir bukan hanya untuk menyaksikan perlombaan, tetapi juga memberikan semangat kepada para santri agar berani tampil, menikmati proses, dan menjadikan setiap kesempatan sebagai pengalaman untuk berkembang.
Bagi M. Bagas dan Ilham Akbar Mudzaki, panggung Ghin? Arabic menjadi pengalaman yang berbeda dari aktivitas mereka selama ini. Jika dalam tim hadroh mereka terbiasa bershalawat bersama-sama, kali ini mereka mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan vokal dan bahasa Arab dalam sebuah penampilan yang lebih khusus.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengalaman santri di pesantren dapat menjadi bekal yang saling melengkapi. Kegiatan hadroh dan shalawat tidak hanya menjadi aktivitas keagamaan, tetapi juga dapat melatih keberanian, kekompakan, olah vokal, penghayatan, serta kesiapan santri ketika mendapatkan kesempatan tampil di ruang yang berbeda.
Di sisi lain, Ghin? Arabic juga menjadi bentuk pembelajaran bahasa Arab yang dikemas melalui seni. Bahasa Arab tidak hanya dipelajari melalui kitab, hafalan kosakata, maupun pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga dapat dikembangkan melalui seni suara. Melalui lagu, santri belajar memperhatikan pelafalan, makhraj, intonasi, penghayatan, sekaligus keberanian menggunakan bahasa Arab secara langsung.
Keikutsertaan dalam Musabaqoh Pendidikan Bahasa Arab IAIN Curup menjadi bagian dari upaya memberikan pengalaman yang lebih luas kepada santri Darul Ma’arif NU Rejang Lebong. Para santri tidak hanya diarahkan untuk belajar di dalam kelas, tetapi juga diberi kesempatan untuk menguji kemampuan, berkompetisi, berinteraksi, dan menunjukkan potensi yang mereka miliki.
Penampilan M. Bagas dan Ilham Akbar Mudzaki juga memperlihatkan bahwa setiap santri memiliki jalan masing-masing dalam mengembangkan bakat. Ada yang tumbuh melalui seni hadroh dan shalawat, ada yang berkembang melalui pidato, syarhil, bahasa Arab, olahraga, maupun berbagai keterampilan lainnya.
Dari panggung Ghin? Arabic, keduanya membawa pengalaman baru dari pesantren. Dari terbiasa bershalawat bersama tim hadroh, kini mereka mencoba tampil dalam cabang seni suara berbahasa Arab. Sebuah proses sederhana, tetapi menjadi langkah penting untuk membangun keberanian dan memperluas kemampuan.
Kehadiran Kepala Madrasah yang memberikan dukungan secara langsung turut menjadi penyemangat bagi para santri. Sebab, keberanian seorang santri untuk tampil tidak tumbuh begitu saja, tetapi membutuhkan ruang, kesempatan, bimbingan, dan dukungan dari lingkungan pendidikan.
Bagi Darul Ma’arif NU Rejang Lebong, setiap penampilan santri bukan semata-mata tentang hasil perlombaan. Lebih dari itu, setiap panggung adalah tempat belajar. Santri belajar berani, belajar percaya diri, belajar menerima pengalaman, dan belajar bahwa kemampuan akan semakin berkembang ketika terus diasah.
(De/Edwinsya)Hastag : #MADarulMaarifNURejangLebong #Kemenag #IRejangLebong#GhinaArabic
From : MA Darul Maarif NU

.jpg)
.jpg)
