Kepala MTsN 2 Rejang Lebong Paparkan Gagasan Kokurikuler Berbasis Pembiasaan dan Penguatan Karakter
Rejang Lebong (Humas) — Kegiatan kokurikuler tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk proyek. Pembiasaan diri, penanaman etika, dan penguatan karakter justru dapat menjadi bagian penting dari proses kokurikuler, terutama bagi murid kelas VII dan VIII. Gagasan tersebut dipaparkan Kepala MTsN 2 Rejang Lebong, Wawan Herianto, S.Pd., MM, dalam pemaparan makalah di Gedung Pascasarjana IAIN Curup, Senin (19/10).
Dalam pemaparannya, Wawan menekankan bahwa madrasah perlu mendesain kegiatan kokurikuler secara terstruktur, mulai dari perencanaan, penyusunan konsep, penetapan rencana kerja, pelaksanaan, hingga evaluasi. Menurutnya, kegiatan kokurikuler harus berangkat dari kebutuhan nyata madrasah agar program yang disusun tidak sekadar memenuhi tuntutan administrasi, tetapi memberikan dampak terhadap perkembangan karakter dan kompetensi murid.
"Kokurikuler perlu dirancang dengan konsep yang jelas, perencanaan yang matang, rencana kerja yang terukur, serta evaluasi yang berkelanjutan. Dasarnya adalah kebutuhan madrasah, sehingga kegiatan yang dilaksanakan benar-benar relevan dengan kondisi dan tujuan pendidikan," ujarnya.
Wawan juga menyoroti pentingnya menyesuaikan bentuk kegiatan kokurikuler dengan tahap perkembangan murid. Khusus untuk kelas VII dan VIII, ia memandang pembiasaan diri dan penanaman etika sebagai pendekatan yang dapat dikembangkan secara sistematis. Dengan demikian, kokurikuler tidak selalu identik dengan pembuatan produk, pelaksanaan proyek, atau kegiatan yang menghasilkan karya fisik.
Pembiasaan disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, sikap saling menghargai, serta budaya gotong royong dapat menjadi bagian dari kegiatan kokurikuler apabila dirancang dengan tujuan, tahapan pelaksanaan, dan indikator keberhasilan yang jelas. Pendekatan ini memberikan ruang bagi madrasah untuk mengembangkan pendidikan karakter melalui pengalaman sehari-hari yang dekat dengan kehidupan murid.
Gagasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembiasaan tidak boleh berhenti pada rutinitas. Madrasah perlu memastikan setiap kegiatan memiliki tujuan pendidikan yang terukur, dilaksanakan secara konsisten, dan dievaluasi untuk melihat perubahan perilaku murid. Dengan cara ini, nilai-nilai yang ditanamkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang tercermin dalam kehidupan di madrasah.
Dalam sesi pengujian makalah, Wawan memaparkan gagasannya di hadapan tim penguji yang terdiri atas Prof. Hendra selaku Direktur Pascasarjana IAIN Curup, Dr. Jumira selaku Ketua Program Studi S3 Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Dr. Irwan, dan Prof. Hamengkubuwono. Pemaparan tersebut menjadi ruang akademik untuk menguji konsep, landasan pemikiran, serta relevansi rancangan kokurikuler terhadap kebutuhan pendidikan di madrasah.
Di MTsN 2 Rejang Lebong, konsep pengembangan kokurikuler tersebut telah dilaksanakan secara bertahap. Langkah ini menjadi bagian dari upaya madrasah untuk membangun program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan murid dan karakteristik satuan pendidikan. Pelaksanaan secara bertahap juga membuka ruang bagi madrasah untuk mengidentifikasi praktik yang efektif, memperbaiki kekurangan, dan menyempurnakan program berdasarkan hasil evaluasi.
Bagi madrasah, tantangan utama dalam mengembangkan kokurikuler bukan sekadar menentukan jenis kegiatan, melainkan memastikan adanya keterkaitan antara kebutuhan murid, tujuan pembelajaran, pelaksanaan program, dan hasil yang ingin dicapai. Karena itu, setiap program perlu memiliki perencanaan yang jelas, pembagian tanggung jawab, dokumentasi pelaksanaan, serta mekanisme evaluasi yang dapat digunakan sebagai dasar perbaikan.
Melalui pendekatan tersebut, MTsN 2 Rejang Lebong berupaya menempatkan kokurikuler sebagai bagian penting dari pendidikan yang menyeluruh. Penguatan karakter tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi di kelas, tetapi juga melalui pembiasaan yang terarah, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan murid.
Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran madrasah dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga beretika, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, serta mampu menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
(Ririn/Edwinsya)Hastag : #kemenagrejanglebong #mtsn2rejanglebong
From : MTsN 2



