DAERAH
UMUM
13 Maret 2025
500
Hastag : #madrasahmandiriberprestasi
From : MTsN 2
Koordinator MTsN 2 Filial Rejang Lebong: Puasa sebagai Terapi Psikologis untuk Menata Ruhani
Rejang Lebong, (Humas) – Puasa bukan hanya sekadar ibadah wajib bagi umat Islam, tetapi juga memiliki manfaat besar dalam menjaga kesehatan fisik dan psikologis. Hal ini disampaikan oleh Sri Wahyulianti, S.Pd.I, Koordinator MTsN 2 Filial Rejang Lebong, yang juga merupakan guru Bimbingan Konseling (BK). Dalam berbagai kesempatan, beliau aktif memberikan kultum dan bimbingan islami kepada para siswa, mengaitkan puasa sebagai terapi psikologis yang mampu menata ruhani manusia, Kamis, (13/3).
Menurut Sri, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri dan memperkuat aspek psikologis seseorang. "Ketika seseorang berpuasa, ia diajarkan untuk bersabar, menahan emosi, dan mengendalikan hawa nafsu. Ini berdampak positif pada kesehatan mental, mengurangi stres, serta meningkatkan ketenangan hati," ujarnya saat memberikan kultum kepada para siswa.
Dalam bimbingan islami yang diberikan di sekolah, beliau menekankan bahwa puasa dapat membantu siswa untuk lebih fokus dalam belajar, meningkatkan disiplin diri, dan menata perasaan agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. "Dengan puasa, ruhani kita semakin tertata. Kita belajar untuk lebih sabar, lebih tenang dalam menghadapi masalah, serta lebih peka terhadap kondisi orang lain," tambahnya.
Sebagai seorang guru BK yang peduli dengan perkembangan psikologis siswa, Sri Wahyulianti rutin memberikan kultum dan bimbingan islami yang menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan kesehatan mental. Dalam sesi bimbingannya, beliau sering mengajak siswa untuk memahami makna puasa lebih dalam, bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi sebagai cara untuk menyucikan hati dan pikiran.
Salah satu pesan yang sering disampaikan dalam kultum adalah tentang bagaimana puasa dapat menjadi sarana introspeksi diri. "Ketika kita menahan lapar dan haus, kita juga diajarkan untuk menahan diri dari amarah, iri hati, dan hal-hal yang merusak jiwa. Dengan begitu, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih bersyukur," jelasnya.
Dengan bimbingan yang diberikan oleh Sri, diharapkan para siswa tidak hanya menjalankan ibadah puasa sebagai kewajiban, tetapi juga memahami nilai-nilai psikologis dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Sehingga, puasa benar-benar menjadi terapi psikologis yang menata ruhani dan membentuk generasi yang lebih sabar, disiplin, serta memiliki akhlak yang mulia.
(April/Prada Utama, S.I.Kom)
Hastag : #madrasahmandiriberprestasi
From : MTsN 2


