MAN Rejang Lebong Gelar Takziah ke Rumah Duka Orang Tua Siswa: Wujud Nyata Kepedulian dan Kebersamaan
Rejang
Lebong (HUMAS) – Suasana haru
menyelimuti keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Rejang Lebong ketika
kabar duka datang dari salah satu siswi kelas XI, Salwa Nur Azizah,
yang kehilangan ibunda tercinta, Ibu Juhairah binti Yakub, pada
Sabtu, 6 September 2025 di RS M. Yunus Bengkulu. Untuk menunjukkan rasa
simpati, kepedulian, dan kebersamaan, pihak madrasah melaksanakan kunjungan
takziah ke rumah duka pada Senin, 8 September 2025.
Kunjungan ini tidak hanya dihadiri oleh pihak
guru, tetapi juga melibatkan wali kelas Fitri, pembina OSIM
Pendi, sejumlah anggota kelas XI, serta perwakilan
pengurus OSIM MAN Rejang Lebong. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa
keluarga besar madrasah tidak pernah meninggalkan siswanya sendirian dalam
menghadapi ujian kehidupan.
Setibanya di rumah duka, rombongan MAN Rejang
Lebong disambut hangat oleh keluarga besar almarhumah. Dalam kesempatan
tersebut, dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu guru sebagai
bentuk penghormatan terakhir kepada almarhumah.
Wali kelas, Fitri,
menyampaikan ungkapan belasungkawa mendalam kepada keluarga. “Kami hadir di sini mewakili keluarga besar MAN Rejang Lebong.
Kehadiran kami adalah bukti bahwa Salwa tidak sendiri dalam menghadapi
kehilangan ini. Semoga almarhumah husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik
di sisi Allah SWT. Kami juga mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberi
kekuatan dan ketabahan,” ucapnya.
Selain doa, kehadiran teman sekelas Salwa Nur
Azizah juga menjadi bentuk dukungan emosional yang sangat berarti. Mereka mendampingi Salwa, memberikan
pelukan hangat, serta kata-kata penguatan. Kehadiran rekan sebaya ini
diharapkan mampu memberikan semangat baru bagi Salwa untuk tetap tegar
melanjutkan kehidupan dan pendidikannya.
Kepala MAN Rejang Lebong, Yusrijal,
menitipkan pesan duka cita mendalam yang disampaikan melalui perwakilan guru.
“Madrasah ini adalah rumah kedua bagi setiap siswa. Dalam suka maupun duka,
kami ingin selalu ada bersama mereka. Kami berharap keluarga besar Salwa diberi
kekuatan, dan semoga semangat belajar Salwa tetap terjaga meski sedang
menghadapi masa sulit,” ungkapnya.
Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan takziah
bukan hanya seremonial, tetapi juga bagian dari pembelajaran karakter yang
penting dalam lingkungan madrasah. Nilai kepedulian, empati, dan kebersamaan
yang ditanamkan dalam kegiatan ini menjadi wujud nyata pendidikan holistik yang
dikembangkan di MAN Rejang Lebong.
Keterlibatan perwakilan OSIM MAN
Rejang Lebong dalam kunjungan ini menjadi salah satu poin penting.
Menurut Pendi, selaku pembina OSIM, keterlibatan siswa dalam
kegiatan sosial seperti takziah akan melatih mereka untuk lebih peka terhadap
lingkungan sekitar.
“Melalui kegiatan ini, OSIM tidak hanya
berfungsi sebagai organisasi intra sekolah yang fokus pada kegiatan siswa,
tetapi juga sebagai wadah penguatan karakter dan nilai-nilai sosial. Kami ingin menumbuhkan rasa kepedulian,
empati, dan semangat gotong royong di kalangan siswa. Kehadiran mereka ke rumah
duka adalah wujud nyata implementasi pendidikan karakter di MAN Rejang Lebong,”
jelas Pendi.
Para pengurus OSIM yang
hadir juga memberikan testimoni bahwa kegiatan ini membuka mata mereka tentang
arti kebersamaan. “Kami merasa penting untuk hadir, karena Salwa bukan hanya
teman, tapi juga bagian dari keluarga besar kami di OSIM. Dengan bersama-sama,
kami bisa saling menguatkan,” ujar salah satu pengurus OSIM.
Kegiatan takziah ini menegaskan kembali peran
MAN Rejang Lebong bukan hanya sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga
sebagai rumah kedua bagi para siswa. Dengan hadirnya guru,
wali kelas, pembina OSIM, teman sekelas, hingga pengurus OSIM, Salwa Nur Azizah
merasakan langsung dukungan moril dan spiritual yang sangat besar.
Bagi pihak madrasah, kegiatan ini sekaligus
menjadi momentum untuk memperkuat ikatan silaturahmi antara sekolah, peserta
didik, dan keluarga. Hal ini sejalan dengan visi MAN Rejang Lebong yang tidak
hanya menekankan pada keunggulan akademik, tetapi juga pembinaan akhlak mulia,
kepedulian sosial, dan jiwa kebersamaan.
Dalam konteks pendidikan abad ke-21, madrasah
tidak hanya dituntut mencetak generasi cerdas secara intelektual, tetapi juga
memiliki kecerdasan emosional dan spiritual. Melalui kegiatan seperti takziah
ini, MAN Rejang Lebong berupaya membentuk pribadi siswa yang peduli, empatik,
dan mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa pendidikan
berbasis nilai-nilai Islami yang diterapkan di MAN Rejang Lebong
benar-benar hidup dalam keseharian siswa dan guru. Nilai ukhuwah Islamiyah,
silaturahmi, dan kepedulian sosial tidak hanya diajarkan dalam teori, tetapi
dipraktikkan secara nyata.
Dengan terlaksananya kunjungan takziah ini,
keluarga besar MAN Rejang Lebong berharap agar Salwa Nur Azizah dan keluarga
senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT. Pihak madrasah juga menegaskan akan
terus memberikan dukungan penuh agar Salwa tetap semangat menuntut ilmu
meskipun tengah menghadapi cobaan hidup yang berat.
“InsyaAllah, kami sebagai
guru dan teman-teman akan terus mendampingi Salwa. Kami ingin menunjukkan bahwa
di MAN Rejang Lebong, setiap siswa adalah bagian dari keluarga besar yang
selalu saling menguatkan,” pungkas Fitri.
(Wajdi/Prada Utama, S.I.Kom)
Hastag : manrl
From : MAN Rejang Lebong


.jpg)
.jpg)