DAERAH
UMUM
11 September 2025
84
Hastag : #madrasahmandiriberprestasi
From : MTsN 2
Kultum Dhuha Kamis Pagi: Guru MTsN 2 Rejang Lebong Sampaikan Kisah Keadilan Allah di Zaman Nabi Musa AS
Rejang Lebong, (Humas) – Suasana Kamis pagi (11/9) di MTsN 2 Rejang Lebong terasa penuh makna dengan digelarnya kultum dhuha rutin. Pada kesempatan kali ini, kultum disampaikan oleh Apriliamdi, M.Pd yang mengangkat tema “Keadilan Allah di Zaman Nabi Musa AS”.
Dalam tausiyahnya, Apriliandi menceritakan sebuah kisah yang sarat hikmah tentang bagaimana Allah SWT menegakkan keadilan dengan cara-Nya sendiri. Kisah ini berawal ketika Nabi Musa AS meminta kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana keadilan-Nya ditegakkan di dunia. Permintaan itu kemudian dikabulkan, dan Nabi Musa ditemani malaikat Jibril AS menuju sebuah sumur tua.
Jibril meminta Musa untuk hanya mengamati setiap peristiwa yang terjadi tanpa ikut campur. Dari situlah Nabi Musa menyaksikan tiga kejadian berturut-turut.
Pertama, seorang penunggang kuda datang untuk beristirahat dan membasuh muka di dekat sumur. Tanpa disadari, ia menjatuhkan sebuah kantong berisi uang. Tidak lama kemudian, datang seorang anak kecil yang hendak mengambil air. Melihat kantong tersebut, anak kecil itu mengambilnya dan pergi.
Kejadian berikutnya, seorang pria buta datang untuk mengambil air di sumur yang sama. Tak lama kemudian, penunggang kuda itu kembali setelah menyadari kantong berisi uangnya hilang. Ia melihat ada si buta dan langsung menuduhnya sebagai pencuri. Amarah memuncak hingga akhirnya penunggang kuda tersebut membunuh pria buta itu.
Melihat peristiwa yang membingungkan ini, Nabi Musa pun bertanya-tanya dalam hatinya tentang letak keadilan Allah. Namun, Jibril kemudian menjelaskan rahasia di balik kejadian tersebut. Ternyata, uang yang ditemukan anak kecil itu adalah upah ayahnya yang dulu tidak pernah dibayarkan oleh penunggang kuda tersebut. Allah dengan adil mengembalikan hak anak kecil melalui uang yang terjatuh.
Sementara itu, pria buta yang terbunuh ternyata pernah membunuh ayah dari anak kecil itu sebelum ia kehilangan penglihatannya. Maka dengan cara Allah, keadilan ditegakkan: si buta menerima balasan atas perbuatannya, dan hak anak kecil dikembalikan tanpa ada yang terlewat.
Di akhir kultum, Apriliandi menegaskan bahwa kisah ini mengajarkan kita agar selalu yakin dengan keadilan Allah, meskipun kadang tidak langsung terlihat oleh mata manusia. “Setiap amal dan perbuatan manusia pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Tugas kita adalah berbuat baik dan bersabar, karena Allah tidak pernah lalai dalam menegakkan keadilan,” ujarnya.
Kultum dhuha tersebut ditutup dengan doa bersama, sementara para siswa tampak menyimak dengan penuh perhatian dan mengambil hikmah dari kisah penuh pelajaran tersebut.
(April/Prada Utama, S.I.Kom)
Hastag : #madrasahmandiriberprestasi
From : MTsN 2



